Arti Ketekunan

Posted: 14 September 2011 in renungan

Aku adalah seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, lowa. Selama 30 tahun aku mengajar piano. Selama itu pula aku menemukan bahwa setiap anak memiliki kemampuan musik yang berbeda. Aku tidak pernah merasa berbuat sesuatu yang besar, walaupun aku mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu aku ingin bercerita tentang seorang muridku yang paling berkesan, namanya Robby.

Robby berumur 11 tahun saar ibunya memasukan dia ke dalam les untuk pertama kalinya. Sebenarnya, aku lebih suka kalau muridku mulai belajar pada usia yang lebih muda. Dan, aku menegaskan hal tersebut kepada Robby.

Tetapi, Robby mengatakan bahwa ibunya ingin sekali mendengar ia bermain piano. Jadi, aku menerimanya sebagai murid.

Lalu, Robby memulai kursus pianonya. Sejak awal aku berpikir bahwa ia tidak ada harapan. Robby mencoba, tetapi ia tidak mempunyai perasaan akan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Namun, ia dengan serius mempelajarinya tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang aku wajibkan untuk dipelajari oleh semua murid.

Selama beberapa bulan ia terus mencoba dan aku mendengarnya dengan ngilu, tetapi tetap memberinya semangat.

Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, “Ibuku pasti akan mendengarkan aku bermain piano pada suatu hari nanti.”

Tetapi, rasanya sia – sia saja. Ia memang tidak mempunyai bakat.

Aku sering melihat ibunya dari jauh, saat menurunkan dan menjemputnya. Ia hanya tersenyum dan melambaikan tangan, tetapi tidak pernah turun.

Pada suatu ketika Robby tidak datang les lagi, dan aku pernah berpikir untuk menghubunginya, tetapi dalam hati aku berpikir bahwa karena ketidakmampuannya, mungkin ia mengambil kursus di bidang lain. Aku juga senang ia tidak datang lagi. Ia menjadi iklan buruk di tempat kursusku.

Beberapa minggu sesudahnya, aku mengirimkan undangan kepada semua murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan.

Hal yang membuatku kaget adalah ketika Robby (yang juga menerima undangan) meminta agar ia dapat ikut serta dalam pertunjukan tersebut. Awalnya aku menolak dan mengatakan bahwa pertunjukan itu hanya untuk murid yang ada sekarang. Karena ia telah keluar, tentu ia tidak dapat ikut serta. Robby mengatakan bahwa ibunya sakit sehingga ia tidak bisa mengantarnya ke tempat kursus, tetapi ia tetap terus berlatih.

“Bu Hondorf tolonglah…. aku ingin ikut bermain…” Ia meminta dengan memelas. Aku tidak tahu hal apa yang membuatku akhirnya mengizinkan ia bermain pada pertunjukan itu.

Tibalah malam pertunjukan itu. Aula dipenuhi oleh orang tua, teman, dan relasi. Aku menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum giliranku main, untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Aku yakin bahwa Robby akan membuat kesalahan dan aku akan menutupinya dengan permainanku.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid – murid telah berlatih dan hasilnya baik.

Lalu, tibalah giliran untuk Robby naik kepanggung. Bajunya kusut dan rambutnya berantakan.

“Kenapa ia tidak berpakaian seperti murid lainnya?” pikirku, “Kenapa ibunya tidak menyisirkan rambutnya malam ini?”

Robby menarik kursi piano dan mulai bermain. Aku terkejut saat ia menyatakan akan memainkan Mozart’s Concerto #21 pada C Mayor.

Jarinya lincah di atas tuts, bahkan menari dengan gesit. Ia berpindah dari pianossimo ke fortissino.. dari allegro ke virtuoso. Akord gantung yang dimainkan Mozart dimainkan oleh orang seusia dia dan sebagus itu !

Setelah enam setengah menit, Robby mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua orang terpaku disana, dengan tepuk tangan yang meriah.

Dengan berurai air mata, aku naik keatas panggung dan memeluk Robby dengan sukacita.

“Aku belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby ! Bagaimana kamu melakukannya ?”

Melalui pengeras suara Robby menjawab,

“Ibu Hondorf… Ingatkah saat kukatakan bahwa Ibuku sakit ? Ya, sebenarnya ia sakit kanker dan ia telah meninggal dunia pagi ini. Dan, sebenarnya … ia tuli sejak lahir, jadi hari inilah ia pertama kali mendengar aku bermain piano. Dan, aku ingin bermain secara khusus.”

Tiada seseorang pun yang matanya kering malam itu.

Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke rumah duka, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.

Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih sayang, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.

Peristiwa ini semakin berarti, ketika setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah, di Federal Building, Oklahoma pada April 1995. Ketika itu dilaporkan… Dia sedang bermain piano.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s